Terkadang membuat membantu seseorang itu tidak
semudah yang kita bayangkan. Dimana yang terpikirkan saat ingin membantu
seseorang ya hanya membantu. Tapi pernahkah kalian memikirkan dampak dari
pertolongan yang kalian berikan..??
Gue mau sedikit bercerita tentang membantu
atau menolong seseorang.
Cerita ini berawal saat gue dan teman-teman
gue sedang asik minum kopi di warung kopi di daerah rumah gue. Saat itu
bertepatan dengan malam minggu, dimana biasanya anak-anak muda berkencan dengan
pasangannya masing-masing. Memang hampir setiap malam minggu, gue dan kedua
teman gue ini selalu bersama melepas kesepian di malam minggu. Singkat cerita,
saat gue dan teman-teman gue sedang asik bercerita sambil menghirup kopi
hangat, lewat sekelompok anak muda yang cukup banyak. Tapi ada sesuatu yang
aneh pada anak-anak muda tersebut, mereka membawa barang yang seharusnya tidak
mereka bawa. Mereka membawa senjata tajam, dan hampir dari mereka semua
memegangnya. Ketika melihat itu, gue dan teman-teman gue hanya diam dan tak
menghiraukan anak-anak muda tersebut, selama mereka tidak mengganggu kenapa gue
harus ganggu. Selang 15 menit setelah mereka lewat di depan kami, datang dua
orang pemuda membawa seorang bapa yang terluka, tepatnya di tangan kirinya.
Lalu pemuda itu bertanya “Maaf mas, ada yang kenal bapa ini ngga..??” gue dan
teman-teman gue manjawab “wah saya ngga kenal mas”. “emang bapa ini kenapa mas”
tanya gue, “kayanya kena serangan dari anak muda yang barusan pada tawuran”
jawab pemuda itu. Ternyata sekumpulan anak muda yang gue dan teman-teman gue
lihat itu abis tahuran. Singkat cerita datanglah seorang ibu-ibu yang melihat
bapa tersebut, dan ternyata ibu tersebut kenal dengan bapa itu. Kemudian ibu
tersebut memanggil warga di sekitar situ. Selidik punya selidik, ternyata bapa
itu salah satu keamanan di daerah itu. Mungkin saat anak-anak muda tersebut
sedang tawuran, bapak ini berniat untuk membububarkan pertikaian tersebut, tapi
apa daya dan upaya justru bapa tersebut yang terkena serang. Kemudian warga
berniat membawa bapa tersebut ke RS, karena klinik di daerah itu sudah tutup
semua, dan seandainya ada yang buka pun, mungkin tak akan bisa mengatasi luka
trsebut karena tangan bapa tersebut hampir putus. Kemudian gue mengambil
inisiatif untuk menghentikan mobil yang lewat pada jam 03.00. Bisa kalian
bayangkan gimana sulitnya mencari mobil yang lewat sekitar jam segitu. Lalu
lewatlah angkutan umum yang entah hendak kemana pada jam segitu. Kemudian gue
memberhentikan mobil tersebut dan mengangkut bapa itu untuk dibawa ke RS. Gue
sempat sedikit kesal dengan warga yang ada disitu, mereka hanya menunjukkan
kepanikan mereka tanpa berbuat sesuatu untuk membantu bapa tersebut. Kemudian
salah satu teman gue naik ke angkutan umum tersebut untuk ikut pergi ke RS,
entah apa yang ia pikirkan sampai ia mengajak gue dan teman gue yang lain untuk
ikut ke RS. Mungkin jiwa kemanusiaan teman gue ini terlalu besar, sampai iya
mau ikut campur dalam masalah tersebut. Lalu gue dan kedua teman ini pergi ke
RS tanpa di dampingi oleh keluarga ataupun kerabat dari bapa tersebut. Dengan
keceptan tinggi mobil itu melaju menuju RS. Di perjalanan, gue sendiri takut
jikalau bapa ini tidak selamat sebelum sampai RS, yang gue bisa lakukan hanya
berdoa dan memberi semangat kepada bapa tersebut untuk tetap bertahan.
Setelah sampai di RS, gue langsung memangil petugas yang ada disana dan meminta tolong untuk langsung menangani bapa tersebut. Singkat cerita datanglah polisi yang menangani masalah tawurah tersebut, sedikit agak lamban memang, dimana para polisi tersebut baru datang setelah tawuran selesai dan memakan korban. Kemudian gue dan kedua teman gue, serta supir di introgasi oleh polisi. Setelah melewati banyak pertanyaan, gue, teman-teman gue seta supir angkutan tersebut boleh kembali ke alam masing-masing, dengan syarat harus kembali datang melapor ke pospol di daerah peristiwa tersebut.
Setelah sampai di RS, gue langsung memangil petugas yang ada disana dan meminta tolong untuk langsung menangani bapa tersebut. Singkat cerita datanglah polisi yang menangani masalah tawurah tersebut, sedikit agak lamban memang, dimana para polisi tersebut baru datang setelah tawuran selesai dan memakan korban. Kemudian gue dan kedua teman gue, serta supir di introgasi oleh polisi. Setelah melewati banyak pertanyaan, gue, teman-teman gue seta supir angkutan tersebut boleh kembali ke alam masing-masing, dengan syarat harus kembali datang melapor ke pospol di daerah peristiwa tersebut.
Singkat cerita, gue dan kedua teman gue datang
ke pospol untuk melaporkan kejadian semalam. Lalu gue dan teman gue kembali
mendapatkan pertanyaan. Kemudian polisi curiga kepada kami karena keterangan
yang kami berikan berbeda dengan keterangan yang di berikan oleh orang lain
yang entah siapa. Ini yang gue benci kalau berurusan sama polisi, niatnya mau
ngebantu malah jadi tersangka. Setelah kembali di selidiki, ternyata ada banyak
korban pada malam itu, sehingga banyak juga keterangan yang berbeda. Kemudian
gue dan kawan-kawan gue di persilahkan untuk kembali melakukan aktifitas
seperti biasa.
Sekiran cerita yang gue alami dalam membantu
sesama.
Pesan moral : Bantulah selagi engkau bisa
membatu, walau dampaknya tak seperti yang kau inginkan.
No comments:
Post a Comment